Waspada! Tiga Orang Meninggal Akibat Antraks di Gunungkidul, DIY

Dapat Kabar – Tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat terkena antraks di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini merupakan laporan pertama mengenai kasus antraks sepanjang tahun 2023, dengan total 93 orang terinfeksi setelah mengonsumsi daging sapi yang mati.

Menurut laporan, penduduk setempat sengaja menggali dan menyembelih sapi yang telah mati dan dikuburkan untuk kemudian dikonsumsi.

“Ada tiga ekor sapi yang dikonsumsi oleh masyarakat. Ketiganya dalam keadaan sakit dan mati,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, seperti yang dikutip dari detikJateng pada Kamis (6/7/2023).

Profesor Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, turut memberikan tanggapannya terhadap laporan ini. Ia pernah menangani kasus serupa pada tahun 2010 dan 2011, ketika wabah antraks terjadi di Maros dan Boyolali.

Antraks adalah penyakit menular hewan yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Biasanya, penyakit ini menyerang hewan herbivora seperti sapi, kambing, dan domba, tetapi juga dapat menular ke manusia.

“Penyakit ini termasuk zoonosis, yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Bakteri penyebab antraks, ketika terpapar udara, akan membentuk spora yang sangat tahan terhadap kondisi lingkungan dan bahan kimia, termasuk beberapa jenis desinfektan, dan bisa bertahan dalam tanah. Oleh karena itu, antraks kadang-kadang disebut sebagai ‘penyakit tanah’,” jelas Profesor Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom pada Kamis (6/7/2023).

Terdapat tiga jenis manifestasi penyakit antraks pada manusia. Pertama, antraks kulit, yang merupakan jenis yang paling umum terjadi. Meskipun tidak berbahaya, kulit penderita akan berubah menjadi hitam.

Jenis kedua adalah antraks pencernaan, dan yang ketiga adalah antraks paru-paru atau pernapasan. “Manifestasi antraks paru-paru dapat menjadi serius, menyebabkan syok, meningitis, dan bahkan kematian dalam beberapa kasus,” tambahnya.

Penanggulangan kasus antraks tidak hanya dapat dilakukan dengan mengendalikan penularan pada manusia atau hewan saja. Diperlukan pendekatan One Health, yaitu kerja sama dalam bidang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Sumber : detik.com