Ternyata, Genetik Tubuh Berperan Penting dalam Tidak Mengalami Gejala COVID-19

Dapat Kabar – Misteri mengenai mengapa beberapa orang yang terinfeksi COVID-19 tidak menunjukkan gejala apapun mungkin telah terpecahkan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature baru-baru ini mengungkapkan bahwa variasi genetik tertentu dari protein dalam tubuh dapat menjadi penyebab seseorang tidak mengalami gejala COVID-19, bahkan setelah terpapar virus tersebut.

Protein yang menjadi pusat perhatian penelitian ini adalah antigen leukosit manusia (HLA), yang terdapat di permukaan sel dan berperan dalam menekan respons sistem kekebalan tubuh jika terjadi kesalahan, seperti infeksi virus Corona.

Kenyataannya, protein HLA pada setiap orang berbeda-beda, tidak identik bahkan dengan saudara kandung atau anggota keluarga lainnya, karena perbedaan genetik yang membuatnya unik.

Jill Hollenbach, seorang profesor neurologi di University of California, San Francisco, yang memimpin penelitian, menyatakan bahwa protein HLA merupakan molekul sistem kekebalan yang sangat bervariasi, ditemukan di permukaan semua sel dalam tubuh, dan berbeda pada setiap individu.

Penelitian ini melibatkan hampir 1.500 orang yang tidak divaksinasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 136 orang dites positif COVID-19 namun tidak menunjukkan gejala apapun, seperti pilek atau tenggorokan terasa geli.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20 persen orang yang tidak mengalami gejala COVID-19, memiliki setidaknya satu salinan varian HLA-B*15:01, dibandingkan dengan hanya 9 persen dari mereka yang menunjukkan gejala. Lebih mengejutkan lagi, orang yang membawa dua salinan varian HLA-B*15:01 memiliki delapan kali lebih banyak kemungkinan untuk tidak menunjukkan gejala COVID-19 meskipun dites positif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa protein HLA ini menjadi salah satu kunci penting dalam mengungkap mengapa beberapa orang tidak mengalami gejala COVID-19. Sel T pada orang dengan varian HLA-B*15:01 tampak lebih efektif dalam mengenali dan membersihkan virus dari sel tubuh, sehingga sel T dapat bekerja lebih cepat dalam membunuh sel yang terinfeksi virus sebelum gejala berkembang.

Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa genetik hanya merupakan bagian dari teka-teki kompleks dalam menghadapi COVID-19. Selain protein HLA, masih ada banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menemukan jawaban lengkap terkait gejala atau tidaknya seseorang saat terinfeksi virus Corona.

Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk pengembangan obat dan vaksin yang lebih efektif dalam mengatasi COVID-19. Walau begitu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperdalam pemahaman kita tentang peran genetik dalam gejala COVID-19.

Sumber : detik.com