Slow Living, Gaya Hidup Lambat yang Kaya Manfaat

Dapat Kabar – Belakangan ini, pengguna media sosial Twitter ramai membahas gaya hidup slow living. Hal ini berawal dari wawancara aktris senior Lulu Tobing yang menyebut dirinya sebagai pribadi yang tidak ambisius dalam hidup. 

Slow living merupakan gaya hidup lambat yang menekankan pada kedamaian diri tanpa terlalu banyak terpaku pada pencapaian tertentu. 

“Slow living adalah pendekatan sadar terhadap kehidupan yang melibatkan hidup lebih lambat sehingga Anda dapat menghargai setiap momen dan memprioritaskan apa yang penting dalam hidup,” kata Dr. Jenelle Kim, pakar pengobatan China dan herba. 

Cara hidup seperti ini jauh dari normalisasi masyarakat modern yang didominasi dengan persaingan ketat dalam berbagai bidang.

“Kita telah diberitahu untuk percaya bahwa kita perlu bekerja keras untuk menerima hadiah apa pun,” kata Alyse Bacine, seorang mentor spiritual dan praktisi pernapasan. 

Gaya hidup slow living mengajak kita untuk mencoba cara berpikir baru yang memungkinkan untuk menerima dan mengalami semua yang ditawarkan kehidupan sepenuhnya. 

“Itu didasarkan pada memilih kebahagiaan kita daripada hal lain,” jelas Bacine. 

Beberapa waktu belakangan, konsep hidup berkesadaran ini memang semakin populer berkat media sosial. Namun Kim mengatakan, slow living sebenarnya sudah eksis dalam banyak masyarakat dan budaya selama berabad-abad. 

Pandemi Covid-19, kata dia, turut berkontribusi pada popularitas gaya hidup ini. Sebab, situasi tersebut memaksa banyak orang untuk memperlambat dan mengevaluasi kembali prioritasnya.

Pandemi memberi banyak orang gambaran sekilas tentang manfaat hidup yang lebih lambat. Pasalnya, banyak orang sebenarnya mengalami kelelahan fisik maupun mental akibat tekanan, kesibukan dan stres yang terus-menerus. 

Praktik slow living bermanfaat untuk menghadirkan lebih banyak kebahagiaan, kedamaian, dan kegembiraan karena dijadikan prioritas utama. 

Salah satu unsur penting slow living, menurut Kim, adalah menghilangkan stres dari hidup yang bermanfaat untuk fisik maupun mental. 

Seperti membuat tidur yang lebih nyenyak, pencernaan yang lebih baik, suasana hati yang meningkat, ketegangan otot yang berkurang, kecemasan yang berkurang, dan tekanan darah yang lebih rendah.

Penerapan slow living juga bermanfaat bagi kesejahteraan spiritual. Seseorang akan cenderung merasa bersyukur dan menghargai seluruh pencapaian dalam hidupnya. 

Sumber: Kompas