Simak! Alasan Kenapa Banyak Anak Muda Merokok Di Indonesia

Dapat Kabar – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persentase penduduk Indonesia yang merokok dengan usia lebih dari lima tahun mencapai 23,25 persen pada tahun 2022. Meskipun angka ini mengalami penurunan 0,55 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 23,78 persen, namun perokok dewasa di Indonesia diperkirakan mencapai 68 juta orang.

Penggunaan rokok yang begitu masif di Indonesia juga berkaitan erat dengan kandungan bahan perasa di berbagai jenis rokok tembakau kretek maupun putih. Sayangnya, fenomena ini juga berdampak pada tren perokok di kalangan usia muda yang semakin meningkat.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Institute of Global Tobacco Control Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, yang dirilis dalam jurnal BMJ, menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan rokok dan kandungan perasa kimia. Temuan ini juga sejalan dengan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa bahan kimia perasa diidentifikasi sebagai promosi penggunaan tembakau.

Para peneliti menemukan bahwa beberapa jenis rokok di Indonesia memiliki kadar perasa kimia yang tinggi. Keberadaan berbagai macam perasa dan ketersediaannya yang luas ini menjadi perhatian serius, bukan hanya karena senyawa perasa tersebut memiliki hubungan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti edema paru-paru berdarah, infeksi saluran pernafasan, dan peradangan akut, tetapi juga karena variasi rasa ini mendorong penggunaan dan memperluas pasar konsumen produk tembakau yang berbahaya.

Beberapa perasa kimia yang umum digunakan adalah senyawa cengkeh (seperti eugenol), menthol, dan perasa kimia tambahan lainnya. Penelitian tersebut menganalisis setidaknya 24 merek rokok kretek dan putih, serta mencari kadar kandungan perasa kimia di setiap batang rokok. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan eugenol (senyawa perasa cengkeh) sangat tinggi pada 24 merek rokok kretek, yaitu berkisar antara 2,8 hingga 33,8 mg per batang. Namun, laporan tersebut tidak menemukan kandungan yang sama pada semua merek rokok putih.

Selain itu, menthol terdeteksi pada 14 dari 24 merek rokok kretek, dengan tingkat yang bervariasi antara 2,8 hingga 12,9 mg per batang. Menthol juga ditemukan pada 5 dari 9 merek rokok putih, dengan kandungan antara 3,6 hingga 10,8 mg per batang. Tidak hanya itu, perasa kimia lainnya, seperti rasa buah-buahan, juga ditemukan pada banyak jenis rokok yang diteliti.

Kehadiran bahan perasa ini meningkatkan daya tarik produk tembakau dan tingkat konsumsinya. Hal ini sangat jelas dari hubungan antara keberadaan zat perasa di produk tembakau dengan biaya kesehatan dan sosial yang mencapai sekitar 1,6 juta dolar AS pada tahun 2019, serta jumlah kematian terkait tembakau sekitar 225.000 per tahun.

Beladenta Amalia, peneliti post-doctoral di Institute of Global Tobacco Control (IGTC) dan salah satu penulis penelitian ini, mengimbau pemerintah untuk segera mengevaluasi penggunaan bahan perasa kimia yang diyakini menjadi pemicu minat terhadap rokok, terutama di kalangan muda. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa lebih dari 225 ribu orang di Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat merokok atau penyakit terkait tembakau.

“Berbagai macam bahan perasa yang kami identifikasi, termasuk menthol dan senyawa terkait cengkeh seperti eugenol, menunjukkan bahwa produk tembakau dirancang untuk menarik minat dari beragam konsumen dengan preferensi rasa yang berbeda, termasuk kalangan muda,” ungkap Beladenta.

Kami merekomendasikan agar pemerintah segera melarang penggunaan bahan perasa kimia dalam produk tembakau secara nasional di Indonesia, karena penelitian telah menunjukkan bahwa tindakan ini dapat mengurangi penggunaan tembakau dan meningkatkan upaya untuk berhenti merokok, sehingga mencegah kematian dan penyakit yang tidak perlu.

Jika langkah-langkah ini diambil, kita bisa berharap untuk melihat penurunan jumlah perokok di Indonesia dan masyarakat yang lebih sehat.

Sumber : detik.com