Kemendikbud Ristek Usulkan Seblak Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dapat KabarSeblak khas Jawa Barat diusulkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementrian, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Kuliner khas Jawa Barat yang berbahan dasar kerupuk ini disukai oleh orang dari berbagai kalangan. Apalagi belakangan ramai varian seblak coet ala Rafael SMASH.

Makanan ini merupakan kuliner kerupuk rebus yang disajikan dengan kuah berempah dengan cita rasa kencur yang dominan. Seblak kemudian disajikan dengan berbagai kondimen. Mulai dari makaroni, ceker, bakso ikan, dumpling, mie, dan masih banyak lagi. 

Kelezatan seblak itu kemudian diusulkan untuk menjadi warisan budaya tak benda yang akan didaftarkan di UNESCO.

Rusmiati selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kemendikbud Ristek mengatakan, usulan ini didasari lantara kuliner tersebut sudah ada sejak lama dan masih bertahan.

“Kalau di Garut itu, banyak sebenarnya warisan budaya kita. Misalkan ini yang lagi ramai kuliner seblak. Itu dari Bandung apa Garut, harus ada kajian dan bisa diusulkan sebagai warisan budaya,” ujarnya, seperti yang dikutip dari Antara.

Sejumlah syarat harus dipenuhi agar seblak bisa menjadi warisan budaya tak benda, misalnya dari segi sejarah dan cerita menarik tentang seblak.

Rumiati lebih lanjut menjelaskan bahwa seblak berawal dari tradisi masyarakat memasak kerupuk basah dengan bumbu rempah-rempah khas. Selain itu, juga harus ada dokumentasi seperti video dan foto.

Syarat itu dapat dijadikan sebagai bukti fisik atau saksi agar menguatkan kuliner tersebut sebagai hasil karya anak bangsa dengan cita rasa yang khas.

Komunitas atau kelompok juga dibutuhkan untuk mempertanggungjawabkan keabsahan dokumen dan data mengenai seblak. Jika syarat terpenuhi, maka bisa diusulkan ke pemerintah daerah, provinsi, baru kemudian diuji tingkat nasional.

Dikutip dari detikJabar (20/02/23) tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai kapan pertama kali seblak ditemukan. Konon, kuliner ini sudah ada sejak zaman kemerdekaan di Parahyangan.

Kata ‘seblak’ sendiri diambil dari bahasa Sunda, yakni ‘nyeblak’ yang artinya mengagetkan. Penamaan itu untuk deskripsikan rasa seblak yang bikin kaget karena pedas.

Sumber: detikfood