Kasus Penyakit Pernapasan Melonjak Imbas Polusi Udara

Dapat Kabar – Akibat polusi udara, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkap angka kejadian penyakit pernapasan melonjak menjadi 200 ribu kasus. Adapun penyakit tersebut berkisar dari kanker paru, TBC, PPOK, asma, sampai pneumonia.

“Memang polusi udara itu menyebabkan penyakit pernapasan atau respiratory. Di kita sendiri memang khususnya Jakarta, kita lihat sebelum COVID itu 50 ribuan yang kena, sekarang sudah naik ke 200 ribuan. Nah itu ada akibatnya dari polusi udara ini,” kata Budi Gunadi di konferensi pers ASEAN Finance-Health Ministers Meeting, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (24/8/2023).

Pembiayaan kesehatan otomatis meningkat karena penyakit pernapasan. Diperkirakan biaya perawatan akibat penyakit pernapasan tembus Rp 10 triliun.

“Respiratory diseases yang saya sampaikan itu tahun lalu total klaimnya di BPJS Rp 10 triliun. Jadi pasti tahun ini kalau lebih banyak yang kena itu akan naik,” ucapnya.

Secara terpisah, spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) juga menyoroti tren kasus kematian imbas polusi udara. Dalam kurun kurang lebih satu tahun terakhir, angka kasus penyakit respirasi konsisten mulai melampaui 100 ribu pasien per bulan, tepatnya sejak Oktober 2022.

Ia menilai polusi udara di Indonesia berkontribusi terhadap kenaikan penyakit respirasi yang tingkat fatalitasnya cukup tinggi.

Diperkirakan ada 120 ribu kasus kematian akibat polusi udara yang dilaporkan dalam setahun terkait penyakit pernapasan, termasuk pneumonia, salah satunya ISPA, seiring dengan laporan dua tahun ke belakang konsentrasi PM 2.5 di Indonesia selalu melampaui pedoman aman organisasi kesehatan dunia (WHO).

“Kita punya data tahun 2019, ketika terjadi peningkatan polutan PM10, ketika itu serangan asma meningkat yang datang ke IGD, ke RSUP Persahabatan. Kunjungan gawat darurat karena asma juga meningkat,” sebut dr Agus.

Khususnya, ia meminta masyarakat mewaspadai gejala akibat polusi udara yang paling banyak dikeluhkan termasuk batuk, ISPA, hingga laporan gangguan fungsi paru, juga jangka panjangnya serangan jantung.

Sumber: detikhealth