Alasan Keamanan, Irak Memblokir Aplikasi Telegram

Dapat KabarIrak resmi memblokir aplikasi Telegram. Kementerian Telekomunikasi Irak baru-baru ini memutuskan untuk melarang aplikasi berbagi pesan tersebut karena kekhawatiran akan pelanggaran data pribadi dan mengancam keamanan nasional. 

Melansir dari Gizchina, Selasa (8/8), Kementerian Telekomunikasi Irak menilai Telegram tidak mampu menangani data pengguna dengan baik. Mereka mengklaim langkah pemblokiran ini dapat menjaga integritas data pribadi pengguna.

Alasan kementerian memblokir aplikasi tersebut karena dikhawatirkan bisa membocorkan data lembaga resmi negara dan data pribadi warga. Adapun perintah pemblokiran ini telah dilayangkan melalui surat resmi. 

“Kementerian Komunikasi menegaskan penghormatannya terhadap hak warga negara atas kebebasan berekspresi dan berkomunikasi, tanpa mengurangi keamanan negara dan institusinya,” kata Kementerian Telekomunikasi Irak.

Telegram memang disebut-sebut telah mengumpulkan dan menyimpan data pribadi pengguna. Ini termasuk info pribadi seperti nama, nomor telepon, dan bahkan data lokasi.

Data ini dikhawatirkan dapat disalahgunakan atau diakses oleh individu yang tidak bertanggungjawab, sehingga menimbulkan risiko terhadap privasi dan keamanan warga Irak.

Masalah keamanan nasional juga berperan besar dalam keputusan untuk memblokir Telegram. Pemerintah Irak percaya bahwa fitur enkripsi aplikasi mempersulit pihak berwenang untuk memantau dan melacak potensi ancaman.

Hal ini berpotensi dimanfaatkan oleh individu atau kelompok dengan niat jahat. Mereka mengklaim bahwa ini dapat menimbulkan ancaman serius bagi keamanan negara.

Terkait keputusan tersebut, Telegram menyatakan bahwa semua data pengguna di aplikasinya sangat aman dan tidak menimbulkan risiko bagi pengguna. Perusahaan menegaskan tidak ada yang dapat mengakses data selain pihak berwenang.

Pihaknya bakal melakukan pembicaraan dengan pemerintah Irak untuk melihat bagaimana layanannya dapat dipulihkan. Mereka juga menyerukan kepada pengguna aplikasi untuk tetap tenang dan akan terus berbicara dengan pemerintah.

“Harap tetap tenang, semua data pengguna sangat aman dan kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk mengembalikan layanan kami. Kami sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah,” kata Telegram.

Reaksi beragam muncul dari kebijakan larangan Telegram di Irak. Sementara beberapa pengguna menyatakan kekecewaannya, yang lain menyambut baik langkah tersebut sebagai langkah yang diperlukan.

Sumber: Okezone